Monday, June 5, 2017

IPA dan PERKEMBANGAN TEKNOLOGI


A.      perkembangan pikiran manusia
1.       Sifat unik manusia

Dibanding dengan makhluk lain, jasmani manusia adalah lemah, sedangkan rohaninya atau akal budi dan kemauannya sangat kuat. Manusia  tidak dapat terbang seperti elang, tidak dapat berenang secepat buaya, maka untuk bela diri terhadap serangan dari makhluk lain manusia harus memanfaatkan akal Budinya yang cemerlang. Jadi sifat unik manusia itu ialah akal budi dan kemauannya menaklukan jasmaninya.

2.       Rasa ingin tahu

Akal budi manusia tidak pernah puas  dengan pengetahuan yang telah dimilikinya. Selalu timbul keinginan untuk menambah pengeta huan itu.  Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai persoalan yang muncul di dalam pikirannya.  Sebenarnya, Setiap orang mempunyai rasa ingin tahu, meskipun minatnya p pun berbeda-beda.  Jadi, rasa ingin tahu tiap manusia pada dasarnya belum tentu sama kuat,  demikian pula kelompok fenomena yang menimbulkan rasa ingin tahu Biasanya berbeda-beda dan dapat berubah-ubah menurut keadaan.

3.       Rasa ingin tahu menyebabkan alam pikiran manusia berkembang

Perkebangan alam pikiran dapat juga disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongan dari dalam yang berupa rasa ingin tahu. Tidak seperti perkembangan yang disebabkan oleh rasa ingin tahu, yang perkembangan alam pikirannya berkembang terutama karena dorongan dari dalam yaitu rasa ingin tahu. Perkembangan alam pikiran dari luar hasilnya cenderung tidak mendalam dan tidak tahan lama.

B.      Mitos, penalaran, dan pengetahuan pangkal kelahiran IPA
1.       Mitos
Menurut A. Comte, bahwa dalam sejarah perkembangan manusia itu ada tiga tahap, yaitu:
a          Tahap teologi atau tahap metafisika
b         Tahap filsafat
c          Tahap positif atau tanpa ilmu
Dalam tahap teologi atau metafisika manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita atau kenyataan, mitos diciptakan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia.
2.       Penalaran Deduktif (Rasionalisme)
Dengan bertambah majunya alam pikiran manusi dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos.



3.       Penalaran Induktif (Empirisme)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain yang berdasarkan pengalaman konkrit.mereka yang mengembangkan pengetahuan berdasarkan  pengalaman konkrit. mereka yang mengembangkan pengetahuan Berdasarkan pengalaman konkrit ini disebut penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar ialah dengan pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkrit. menurut paham  empirisme ini, gejala alam itu bersifat konkrit dan dapat ditangkap dengan panca indra manusia. Dengan pertolongan Panca indranya, manusia berhasil menghimpun secara banyak pengetahuan. Himpunan pengetahuan ini belum dapat disebut ilmu pengetahuan yang disusun secara teratur dan dicari hubungan sebab akibatnya. Untuk maksud itupeperlu dilakukan penalaran. Penalaran haruslah dimulai dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks. Di dalam penalaran itu, fakta yang didasarkan atas pengamatan tidak boleh dicampuradukkan dengan dugaan atau pendapat orang lain yang melakukan penalaran.

4.       Pendekatan ilmiah, kelahiran IPA
Agar himpunan pengetahuan itu dapat disebut ilmu pengetahuan, harus digunakan perpaduan antara rasionalisme dan empirisme, yang dikenal sebagai metode keilmuan atau pendekatan ilmiah. Pengetahuan yang disusun dengan secara pendekatan ilmiah atau pendekatan metode keilmuan, diperoleh melalui kegiatan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah ini dilaksanakan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan atas data-data empiris. Kesimpulan dari penelitian ini dapat menghasilkan suatu teori. Teori ini masih dapat diuji dalam hati keajegan dan kemantapannya. Artinya bilamana diadakan penelitian ulang yang dilakukan oleh siapapun dengan langkah-langkah yang serupa dan pada kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang ajeg (konsisten).

C.      Metode ilmiah sebagai ciri khas IPA
1.       Metode ilmiah
Metode ilmiah merupakan cara dalam memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Untuk memperoleh/menemukan pengetahuan dengan metode ilmiah tersebut harus ditempuh suatu rangkaian prosedur tertentu. Langkah-langkah tersebut harus diikuti dengan sesama hinga dapat sampai pada kesimpulan yang benar. Dapat juga dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan gabungan antara rasionalisme dan empirisme. cara cara berpikir rasional dan empiris tersebut tercermin pada langkah-langkah yang terdapat dalam proses kegiatan ilmiah tersebut. Kerangka dasar proses prosedurnya dapat diuraikan atas langkah-langkah berikut:
a         Penemuan atau penentuan masalah
Suatu masalah harus dirumuskan sedemikian rupa hingga memungkinkan untuk dianalisis secara logis dan kemudian mudah untuk dipecahkan. Jadi, pada langkah pertama ini kita harus menetapkan masalah yang akan kita telaah dengan ruang lingkup serta batasan batasannya
b        Perumusan kerangka masalah
Suatu masalah merupakan suatu gejala dimana beberapa fakta saling berkaitan satu sama lain dan membentuk suatu kerangka permasalahan. Unsur-unsur yang membentuk kerangka dapat kita turunkan secara empiris. Akan tetapi, tidak semua masalah dalam keadaan demikian. Banyak masalah masalah yang unsur-unsur pembentuknya tidak dapat dikenal dengan langsung secara empiris dan untuk itu diperlukan kerangka pemikiran rasional. Jadi,  dalam langkah perumusan kerangka permasalahan ini kita sudah mulai berpikir secara empiris dan secara rasional.
c         Pengujian hipotesis
Hipotesis adalah kerangka pemikiran sementara yang menjelaskan hubungan antara unsur-unsur yang membentuk suatu kerangka permasalahan. Pengajuan hipotesis ini didasarkan pada permasalahan yang bersifat rasional. Kerangka pemikiran sementara yang diajukan tersebut disusun secara deduktif berdasarkan permis permis atau pengetahuan yang telah diketahui kebenarannya.
d        Deduksi hipotesis
Deduksi hipotesis merupakan langkah tertentu dalam rangka menguji hipotesis yang diajukan. Konsekuensi hipotesis tersebut secara deduktif dijabarkan secara empiris. Jadi, dapat juga dikatakan bahwa deduksi hipotesis merupakan Identifikasi fakta-fakta apa saja yang dapat diamati dalam dunia fisik yang nyata dalam hubungannya dengan hipotesis yang diajukan.
e        Pengujian hipotesis
Langkah ini merupakan usaha untuk mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan deduksi hipotesis. Jika fakta-fakta tersebut sesuai dengan konsekuensi hipotesis, berarti hipotesis yang diajukan terbukti/benar, karena didukung oleh fakta-fakta yang nyata. Sebaliknya fakta-fakta yang tidak sesuai dengan konsekuensi hipotesis, yang berarti bahwa hasil deduksi meleset, maka hipotesis tersebut harus ditolak.
f          Keterbatasan dan keunggulan metode ilmiah
(1)    Keterbatasan
Semua kesimpulan ilmiah atau kebenaran ilmu termasuk ilmu pengetahuan alam (IPA) bersifat tentatif, artinya kesimpulan itu dianggap benar selama belum ada kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu. Sedangkan kesimpulan ilmiah yang dapat menolak kesimpulan ilmiah yang terdahulu menjadi kebenaran ilmu yang baru. Keterbatasan lain dari metode ilmiah adalah tidak dapat menjangkau untuk membuat kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistem nilai, tentang seni dan keindahan, dan juga tidak dapat menjangkau untuk menguji adanya Tuhan.
(2)    Keunggulan
Ilmu atau ilmu pengetahuan (termasuk IPA) mempunyai ciri khas yaitu objektif, metodis, sistematis, dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat tersebut maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan ilmu pengetahuan akan terbimbing sedemikian caranya hingga padanya dikembangkan Suatu sikap yang disebut sikap ilmiah.
2.       Pengertian IPA
IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang diperoleh/disusun dengan cara yang khas/khusus, yaitu melakukan observasi eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi, dan demikian seterusnya kait mengait antara cara yang satu dengan cara yang lain.

3.       Relativitas IPA
Fakta sebenarnya mendeskripsikan/memberikan fenomena-fenomena (gejala). Namun, kadang fenomena yang dapat diberikan dengan cara berbeda, tergantung dari sudut pandang si perumus fakta itu. Sebagai contoh fenomena Terbit dan terbenamnya matahari.
a         Matahari terbitkan dan naik di sebelah timur, lalu turun dan tenggelam di sebelah barat.
b        Bumi berputar ke arah timur maka matahari seolah-olah bergerak ke barat.
Relativitas timbul terutama jika si pengamat sedikit banyak terlibat di dalam fenomena itu atau jika si pengamat hanya dapat mengamati sebagian saja dari fenomena itu.
4.       IPA bersifat dinamis
Proses IPA berlangsung terus-menerus sehingga selalu terdapat mekanisme kontrol, bersifat terbuka untuk selalu diuji kembali dan bersifat kumulatif. Pengetahuan yang diperoleh selalu bertumpu di atas dasar dasar sebelumnya dalam kerangka yang bersifat kumulatif, sehingga karenanya bersifat konsisten dan sistematis. dengan kata lain IPA berkembang secara dinamis.  Proses IPA yang dinamis ini karena menggunakan metode keilmuan, di mana penalaran teori dan eksperimen saling komplementer dan saling memperkuat.
D.       IPA dan perkembangan daya abstraksi manusia
1.       Peranan matematika dan daya abstraksi manusia
Peranan matematika bagi IPA adalah Matematika telah memberikan ciri khas bahasa tersendiri pada IPA yang bisa disebut dengan bahasa Matematika yang sangat berguna untuk peningkatan daya abstrak otak manusia
2.       Peranan matematika terhadap IPA
sejak awal kehidupan manusia, matematika merupakan alat bantu untuk mengatasi sebagian permasalahan yang menghadapi lingkungan hidupnya. Sumbangan matematika terhadap perkembangan IPA sudah jelas, bahkan boleh dikatakan bahwa tanpa Matematika, IPA tidak akan berkembang. Hal ini disebabkan karena IPA menggantung kan diri pada metode induksi. Dengan metode induksi semata tak Tidak mungkin orang mengetahui jarak antara bumi dengan bulan atau bumi dengan matahari, bahkan untuk menyatakan keliling bumi saja hampir tidak mungkin. Berkat bantuan matematika lah maka para filusuf dapat menghitung besarnya bumi dengan metode gabungan antara induksi dan deduksi matematika.
3.        IPA kualitatif dan kuantitatif
Ilmu pengetahuan alam yang kualitatif tidak bisa menjawab pertanyaan yang sifatnya kausal atau hubungan sebab akibat, karena ilmu pengetahuan alam kualitatif hanya mampu menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya faktual. Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan tentang hal-hal yang sifatnya kausal, diperlukan perhitungan secara kuantitatif.
E.       Kesimpulan
Segala yang diketahui manusia itu adalah “pengetahuan”. pengetahuan itu dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu: pengetahuan ilmiah dan pengetahuan non ilmiah. Pengetahuan non ilmiah didapat antara lain dari prasangka, coba-coba, intuis,i dan tidak sengaja. Sedangkan pengetahuan ilmiah didapat dari hasil sebuah penelitian atau sebuah percobaan.







Sumber:



Aly, A., & Rahma, E. (2015). ILMU ALAMIAH DASAR (1 ed.). (R. Damayanti, Ed.) JAKARTA: Bumi Aksara.




No comments:

Post a Comment

ISU LINGKUNGAN

BAB  I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini berlangsung sangat cepat. Banyak kom...