A.
perkembangan
pikiran manusia
1.
Sifat
unik manusia
Dibanding dengan makhluk lain, jasmani
manusia adalah lemah, sedangkan rohaninya atau akal budi dan kemauannya sangat
kuat. Manusia tidak dapat terbang
seperti elang, tidak dapat berenang secepat buaya, maka untuk bela diri
terhadap serangan dari makhluk lain manusia harus memanfaatkan akal Budinya
yang cemerlang. Jadi sifat unik manusia itu ialah akal budi dan kemauannya
menaklukan jasmaninya.
2.
Rasa
ingin tahu
Akal budi manusia tidak pernah puas dengan pengetahuan yang telah dimilikinya.
Selalu timbul keinginan untuk menambah pengeta huan itu. Rasa ingin tahu mendorong manusia untuk
melakukan berbagai kegiatan yang bertujuan untuk mencari jawaban atas berbagai
persoalan yang muncul di dalam pikirannya.
Sebenarnya, Setiap orang mempunyai rasa ingin tahu, meskipun minatnya p
pun berbeda-beda. Jadi, rasa ingin tahu
tiap manusia pada dasarnya belum tentu sama kuat, demikian pula kelompok fenomena yang
menimbulkan rasa ingin tahu Biasanya berbeda-beda dan dapat berubah-ubah
menurut keadaan.
3.
Rasa
ingin tahu menyebabkan alam pikiran manusia berkembang
Perkebangan alam pikiran dapat juga
disebabkan oleh rangsangan dari luar, tanpa dorongan dari dalam yang berupa
rasa ingin tahu. Tidak seperti perkembangan yang disebabkan oleh rasa ingin
tahu, yang perkembangan alam pikirannya berkembang terutama karena dorongan
dari dalam yaitu rasa ingin tahu. Perkembangan alam pikiran dari luar hasilnya
cenderung tidak mendalam dan tidak tahan lama.
B.
Mitos,
penalaran, dan pengetahuan pangkal kelahiran IPA
1.
Mitos
Menurut A. Comte, bahwa dalam sejarah perkembangan
manusia itu ada tiga tahap, yaitu:
a
Tahap teologi atau tahap metafisika
b
Tahap filsafat
c
Tahap positif atau tanpa ilmu
Dalam tahap teologi atau metafisika
manusia menyusun mitos atau dongeng untuk mengenal realita atau kenyataan,
mitos diciptakan untuk memuaskan rasa ingin tahu manusia.
2.
Penalaran
Deduktif (Rasionalisme)
Dengan bertambah majunya alam pikiran
manusi dan makin berkembangnya cara-cara penyelidikan, manusia dapat menjawab
banyak pertanyaan tanpa mengarang mitos.
3.
Penalaran
Induktif (Empirisme)
Pengetahuan yang diperoleh berdasarkan
penalaran deduktif ternyata mempunyai kelemahan, maka muncullah pandangan lain
yang berdasarkan pengalaman konkrit.mereka yang mengembangkan pengetahuan
berdasarkan pengalaman konkrit. mereka
yang mengembangkan pengetahuan Berdasarkan pengalaman konkrit ini disebut
penganut empirisme. Paham empirisme menganggap bahwa pengetahuan yang benar
ialah dengan pengetahuan yang diperoleh langsung dari pengalaman konkrit.
menurut paham empirisme ini, gejala alam
itu bersifat konkrit dan dapat ditangkap dengan panca indra manusia. Dengan
pertolongan Panca indranya, manusia berhasil menghimpun secara banyak
pengetahuan. Himpunan pengetahuan ini belum dapat disebut ilmu pengetahuan yang
disusun secara teratur dan dicari hubungan sebab akibatnya. Untuk maksud
itupeperlu dilakukan penalaran. Penalaran haruslah dimulai dari yang sederhana
menuju yang lebih kompleks. Di dalam penalaran itu, fakta yang didasarkan atas
pengamatan tidak boleh dicampuradukkan dengan dugaan atau pendapat orang lain
yang melakukan penalaran.
4.
Pendekatan
ilmiah, kelahiran IPA
Agar himpunan pengetahuan itu dapat
disebut ilmu pengetahuan, harus digunakan perpaduan antara rasionalisme dan
empirisme, yang dikenal sebagai metode keilmuan atau pendekatan ilmiah.
Pengetahuan yang disusun dengan secara pendekatan ilmiah atau pendekatan metode
keilmuan, diperoleh melalui kegiatan penelitian ilmiah. Penelitian ilmiah ini
dilaksanakan secara sistematis dan terkontrol berdasarkan atas data-data
empiris. Kesimpulan dari penelitian ini dapat menghasilkan suatu teori. Teori
ini masih dapat diuji dalam hati keajegan dan kemantapannya. Artinya bilamana
diadakan penelitian ulang yang dilakukan oleh siapapun dengan langkah-langkah
yang serupa dan pada kondisi yang sama akan diperoleh hasil yang ajeg
(konsisten).
C.
Metode
ilmiah sebagai ciri khas IPA
1.
Metode
ilmiah
Metode ilmiah merupakan cara dalam
memperoleh pengetahuan secara ilmiah. Untuk memperoleh/menemukan pengetahuan
dengan metode ilmiah tersebut harus ditempuh suatu rangkaian prosedur tertentu.
Langkah-langkah tersebut harus diikuti dengan sesama hinga dapat sampai pada
kesimpulan yang benar. Dapat juga dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan
gabungan antara rasionalisme dan empirisme. cara cara berpikir rasional dan
empiris tersebut tercermin pada langkah-langkah yang terdapat dalam proses
kegiatan ilmiah tersebut. Kerangka dasar proses prosedurnya dapat diuraikan
atas langkah-langkah berikut:
a
Penemuan
atau penentuan masalah
Suatu masalah harus dirumuskan sedemikian
rupa hingga memungkinkan untuk dianalisis secara logis dan kemudian mudah untuk
dipecahkan. Jadi, pada langkah pertama ini kita harus menetapkan masalah yang
akan kita telaah dengan ruang lingkup serta batasan batasannya
b
Perumusan
kerangka masalah
Suatu masalah merupakan suatu gejala
dimana beberapa fakta saling berkaitan satu sama lain dan membentuk suatu
kerangka permasalahan. Unsur-unsur yang membentuk kerangka dapat kita turunkan
secara empiris. Akan tetapi, tidak semua masalah dalam keadaan demikian. Banyak
masalah masalah yang unsur-unsur pembentuknya tidak dapat dikenal dengan
langsung secara empiris dan untuk itu diperlukan kerangka pemikiran rasional.
Jadi, dalam langkah perumusan kerangka
permasalahan ini kita sudah mulai berpikir secara empiris dan secara rasional.
c
Pengujian
hipotesis
Hipotesis adalah kerangka pemikiran
sementara yang menjelaskan hubungan antara unsur-unsur yang membentuk suatu
kerangka permasalahan. Pengajuan hipotesis ini didasarkan pada permasalahan
yang bersifat rasional. Kerangka pemikiran sementara yang diajukan tersebut
disusun secara deduktif berdasarkan permis permis atau pengetahuan yang telah
diketahui kebenarannya.
d
Deduksi
hipotesis
Deduksi hipotesis merupakan langkah
tertentu dalam rangka menguji hipotesis yang diajukan. Konsekuensi hipotesis
tersebut secara deduktif dijabarkan secara empiris. Jadi, dapat juga dikatakan
bahwa deduksi hipotesis merupakan Identifikasi fakta-fakta apa saja yang dapat
diamati dalam dunia fisik yang nyata dalam hubungannya dengan hipotesis yang
diajukan.
e
Pengujian
hipotesis
Langkah ini merupakan usaha untuk
mengumpulkan fakta-fakta yang relevan dengan deduksi hipotesis. Jika
fakta-fakta tersebut sesuai dengan konsekuensi hipotesis, berarti hipotesis
yang diajukan terbukti/benar, karena didukung oleh fakta-fakta yang nyata.
Sebaliknya fakta-fakta yang tidak sesuai dengan konsekuensi hipotesis, yang
berarti bahwa hasil deduksi meleset, maka hipotesis tersebut harus ditolak.
f
Keterbatasan
dan keunggulan metode ilmiah
(1)
Keterbatasan
Semua kesimpulan ilmiah atau kebenaran ilmu termasuk ilmu pengetahuan alam
(IPA) bersifat tentatif, artinya kesimpulan itu dianggap benar selama belum ada
kebenaran ilmu yang dapat menolak kesimpulan itu. Sedangkan kesimpulan ilmiah
yang dapat menolak kesimpulan ilmiah yang terdahulu menjadi kebenaran ilmu yang
baru. Keterbatasan lain dari metode ilmiah adalah tidak dapat menjangkau untuk
membuat kesimpulan yang bersangkutan dengan baik dan buruk atau sistem nilai,
tentang seni dan keindahan, dan juga tidak dapat menjangkau untuk menguji
adanya Tuhan.
(2)
Keunggulan
Ilmu atau ilmu pengetahuan (termasuk IPA) mempunyai ciri khas yaitu
objektif, metodis, sistematis, dan berlaku umum. Dengan sifat-sifat tersebut
maka orang yang berkecimpung atau selalu berhubungan dengan ilmu pengetahuan
akan terbimbing sedemikian caranya hingga padanya dikembangkan Suatu sikap yang
disebut sikap ilmiah.
2.
Pengertian
IPA
IPA adalah suatu pengetahuan teoritis yang
diperoleh/disusun dengan cara yang khas/khusus, yaitu melakukan observasi
eksperimentasi, penyimpulan, penyusunan teori, eksperimentasi, observasi, dan
demikian seterusnya kait mengait antara cara yang satu dengan cara yang lain.
3.
Relativitas
IPA
Fakta sebenarnya
mendeskripsikan/memberikan fenomena-fenomena (gejala). Namun, kadang fenomena
yang dapat diberikan dengan cara berbeda, tergantung dari sudut pandang si
perumus fakta itu. Sebagai contoh fenomena Terbit dan terbenamnya matahari.
a
Matahari
terbitkan dan naik di sebelah timur, lalu turun dan tenggelam di sebelah barat.
b
Bumi berputar
ke arah timur maka matahari seolah-olah bergerak ke barat.
Relativitas timbul terutama jika si pengamat
sedikit banyak terlibat di dalam fenomena itu atau jika si pengamat hanya dapat
mengamati sebagian saja dari fenomena itu.
4.
IPA
bersifat dinamis
Proses IPA berlangsung terus-menerus
sehingga selalu terdapat mekanisme kontrol, bersifat terbuka untuk selalu diuji
kembali dan bersifat kumulatif. Pengetahuan yang diperoleh selalu bertumpu di
atas dasar dasar sebelumnya dalam kerangka yang bersifat kumulatif, sehingga
karenanya bersifat konsisten dan sistematis. dengan kata lain IPA berkembang
secara dinamis. Proses IPA yang dinamis
ini karena menggunakan metode keilmuan, di mana penalaran teori dan eksperimen
saling komplementer dan saling memperkuat.
D.
IPA dan perkembangan daya abstraksi manusia
1.
Peranan
matematika dan daya abstraksi manusia
Peranan matematika bagi IPA adalah
Matematika telah memberikan ciri khas bahasa tersendiri pada IPA yang bisa
disebut dengan bahasa Matematika yang sangat berguna untuk peningkatan daya
abstrak otak manusia
2.
Peranan
matematika terhadap IPA
sejak awal kehidupan manusia, matematika
merupakan alat bantu untuk mengatasi sebagian permasalahan yang menghadapi
lingkungan hidupnya. Sumbangan matematika terhadap perkembangan IPA sudah
jelas, bahkan boleh dikatakan bahwa tanpa Matematika, IPA tidak akan
berkembang. Hal ini disebabkan karena IPA menggantung kan diri pada metode
induksi. Dengan metode induksi semata tak Tidak mungkin orang mengetahui jarak
antara bumi dengan bulan atau bumi dengan matahari, bahkan untuk menyatakan
keliling bumi saja hampir tidak mungkin. Berkat bantuan matematika lah maka
para filusuf dapat menghitung besarnya bumi dengan metode gabungan antara
induksi dan deduksi matematika.
3.
IPA kualitatif dan kuantitatif
Ilmu pengetahuan alam yang kualitatif
tidak bisa menjawab pertanyaan yang sifatnya kausal atau hubungan sebab akibat,
karena ilmu pengetahuan alam kualitatif hanya mampu menjawab pertanyaan tentang
hal-hal yang sifatnya faktual. Untuk memperoleh jawaban dari pertanyaan tentang
hal-hal yang sifatnya kausal, diperlukan perhitungan secara kuantitatif.
E.
Kesimpulan
Segala yang diketahui manusia itu adalah “pengetahuan”. pengetahuan itu
dapat digolongkan menjadi dua bagian, yaitu: pengetahuan ilmiah dan pengetahuan
non ilmiah. Pengetahuan non ilmiah didapat antara lain dari prasangka,
coba-coba, intuis,i dan tidak sengaja. Sedangkan pengetahuan ilmiah didapat
dari hasil sebuah penelitian atau sebuah percobaan.
Sumber:
Aly, A., & Rahma, E. (2015). ILMU ALAMIAH
DASAR (1 ed.). (R. Damayanti, Ed.) JAKARTA: Bumi Aksara.
No comments:
Post a Comment